Wednesday, 22 February 2012
Home

Ikutan milis yuk


Ikutan milis Keuskupan Denpasar

Santapan Rohani

Santo Santa
Renungan Romo
Advertisement
SURAT GEMBALA PRAPASKAH-PASKAH 2011 PDF Print E-mail
Written by Puspas at Saturday, 19 March 2011 (1415 hits)

 

SURAT GEMBALA

USKUP DENPASAR

DALAM RANGKA PRAPASKAH-PASKAH 2011

Pemberdayaan Kesejatian Hidup:

KESEJATIAN DALAM MEWUJUDKAN DIRI

 

Saudara-saudari, umat beriman se-Keuskupan Denpasar, yang saya kasihi, 

Prapaskah kembali menyapa kita. Prapaskah merupakan  masa Retret Agung selama 40 hari. Masa Prapaskah adalah saat  istimewa kita mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa, bertobat, bermatiraga dan melakukan karya belas kasih sebagai persiapan menyambut perayaan Paskah.

Dalam kerinduannya untuk memperbaharui praktek-praktek liturgi Gereja, Konstitusi tentang Liturgi Kudus Konsili Vatikan II menyatakan, “Dua ciri khas Masa Prapaskah adalah  mengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan, dan membina sikap tobat. Kedua hal ini  haruslah diberi penekanan yang lebih besar dalam liturgi dan dalam katekese liturgi. Masa Prapaskah merupakan sarana Gereja dalam mempersiapkan umat beriman untuk merayakan Paskah, sementara mereka mendengarkan Sabda Tuhan dengan lebih sering dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa.” (KL. 109).

Selaku Pimpinan Gereja Lokal Keuskupan Denpasar, saya mengajak  seluruh umat agar  dengan sungguh-sungguh memaknai dan memanfaatkan  masa ini untuk menimba rahmat Allah dengan berbagai kegiatan yang memungkinkan tumbuh suburnya hidup rohani kita. Masa ini merupakan suatu kesempatan indah bagi kita untuk berserah  diri kepada Tuhan melalui doa, pantang, puasa, tobat, perbuatan amal kasih, syering Kitab Suci dan kegiatan pendalaman iman. Syering pengalaman dalam kelompok kategorial dan Komunitas  Basis Gerejawi (KBG), akan  memperkaya dan menguatkan kita satu sama lain.
Pada Prapaskah tahun 2011,  Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konferensi Wali Gereja Indonesia (PSE KWI)  mengusung tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) “Pemberdayaan Kesejatian Hidup: Kesejatian Dalam Mewujudkan Diri”.  Tema ini kemudian diangkat  Keuskupan Denpasar menjadi tema APP 2011" yang dijabarkan dalam lima sub tema sebagai bahan pendalaman iman umat dalam komunitas basis selama masa prapaskah. Sehubungan dengan tema tersebut, Dalam Kerangka Dasar APP 2011 kita diajak untuk merefleksikan hal-hal sebagai berikut:


 

Tantangan  Kesejatian dalam Mewujudkan Diri: Sikap Ingat Diri Bertentangan Dengan Misi Yesus 

Tema Kesejatian Dalam Mewujudkan Diri bermaksud mengajak kita untuk menampilkan citra Kristus dalam hidup harian melalui perkataan, perbuatan serta perjuangan kita mewujudkan misi Kristus demi kebahagiaan dan kesejahteraan umat seluruhnya. Melalui Sakramen permandian setiap umat beriman diangkat menjadi anak Allah, dalam persekutuan dengan seluruh Gereja dan makhluk ciptaan. Sebagai anak-anak Allah kita dipanggil  hidup kudus serta mewujudkan jati diri kita sebagai orang  kristen sejati.  Namun dalam perjalanan mengaplikasikan  diri sebagai umat beriman yang baik, manusia menghadapi tantangan besar dalam tata kelola kehidupan zaman ini. Kehidupan modern  berdampak ambivalen, selain memajukan peradaban manusia juga  mengurung manusia  dalam sikap ingat diri dan kelompoknya sendiri. Sikap  ini memberi peluang terciptanya ketidakadilan, kesenjangan sosial dan mengganggu kesejahteraan umum.

Perwujudan diri yang berorientasi pada diri sendiri dan kelompoknya menghempaskan sesama dari  situasi kehidupan yang damai, bahagia serta sejahtera, sebab tidak  mendapat kesempatan  menata kehidupan dengan lebih baik. Dunia dikuasai  orang-orang yang kuat, yang punya pengaruh dan yang memiliki banyak kesempatan.  Budaya ingat diri membuat kehidupan sesama semakin memprihatinkan. Kesempatan membangun kesejatian diri semakin terpuruk oleh situasi yang tidak bersahabat. Masyarakat semakin terperangkap oleh konsumtivisme, hedonisme, individualisme dan egoisme yang menghasilkan tata kelola kehidupan yang keras bahkan cenderung kejam.

Tidak heran jika di dalam tata kehidupan masyarakat muncul istilah  “premanisme”.  Premanisme ini bukan saja berkembang di tataran kehidupan mayarakat warga, tetapi juga di tingkat wakil rakyat, penegak hukum dan peradilan, serta birokrasi. Demi memuaskan keinginan duniawinya orang-orang yang memilki kesempatan, rela menghalalkan segala cara. Bahkan lembaga yang bertugas untuk memikirkan kesejahteraan rakyatpun terjangkit virus ingat diri  yang mengakibatkan rakyat semakin menderita. Di manakah suara hati?

Ironis sekali,  di era modern yang ditandai dengan perkembangan tekhnologi yang serba canggih, masih banyak rakyat yang mengalami busung lapar, kekurangan gizi, tidak bisa sekolah serta kasus-kasus memprihatinkan lainnya. Sikap ingat diri sangat bertentangan dengan misi Yesus yang ingin menyejahterakan dan menyelamatkan semua orang tanpa pandang bulu.  “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10.10b)

 

Proaktif  dan Terlibat Memperjuangkan Kehidupan Bersama

Tugas perutusan setiap pengikut Kristus adalah membangun kehidupan diri yang terbuka dan terarah pada terciptanya keadilan, kebenaran, kedamaian dan kebaikan di tengah dunia. Setiap umat beriman juga dipanggil untuk memberikan kesaksian akan Kristus. Kita juga wajib bersaksi dengan kata-kata serta perbuatan di manapun kita berada. Dalam diri kita harus tampak manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati (Lih. Ef 4:24).

Setiap orang dipanggil untuk membarui dan menyempurnakan diri, supaya dapat melakukan perutusan perwujudan dirinya dengan penuh tanggungjawab. Penyempurnaan dan pembaharuan diri hanya dimungkinkan melalui pertobatan. Pertobatan merupakan undangan sekaligus rahmat Allah. Pertobatan pribadi dalam upaya perwujudan diri sebagai murid Kristus merupakan rahmat Allah demi penyempurnaan diri menuju pembenahan hidup bersama.

Kita tidak boleh tinggal diam menyaksikan penderitaan sesama, melainkan harus proaktif dan terlibat memperjuangkan kehidupan bersama yang sejahtera. Keterlibatan dalam karya keselamatan yang merupakan bagian utuh perwujudan diri dalam kesejatian hidup diharapkan terlaksana dengan sepenuh hati, sehingga berbuah melimpah bagi terciptanya kesejahteraan umat manusia.

Dilandasi semangat kasih,  kita diharapkan memiliki sikap kerelaan berbagi demi terciptanya pemberdayaan bersama sebagai wujud aktualisasi diri yang sejati. Pemberian diri dalam wujud perkataan, perhatian, perbuatan dan karya pelayanan dalam kehidupan bersama akan semakin menciptakan kesejatian diri yang terbuka untuk pembaruan diri dalam kebersamaan yang saling melayani dalam kasih persaudaraan. “Rahmat, damai sejahtera dan kasih kiranya melimpahi kamu”  (Yudas 1:2).

 

Membangun Sikap untuk Mewujudkan Diri

Pembelajaran diri umat beriman sebagai suatu proses kemampuan mewujudkan diri dalam membangun tata kelola kehidupan yang utuh dan  terbuka memerlukan kesadaran akan pentingnya pengembangan diri sebagai murid Kristus yang menuntut beberapa sikap dasar dari pihak kita yakni:

1.   Membangun nurani kemuridan sejati: Perutusan kemuridan menghadirkan nurani Kristiani demi kesejahteraan hidup berdasarkan pola pikir Yesus Kristus. Nurani Kristiani harus utuh dalam penghayatan iman sekaligus terbuka untuk menggerakkan pelayanan bagi sesama yang saling memberdayakan.

2.   Belajar berbagi dan bekerjasama: Umat beriman harus mau belajar hidup berbagi dan bekerjasama dengan sesama, agar kesejatian hidup diri terpantul juga dalam hidup harian.

3.   Belajar menggunakan pelbagai karunia dan peluang yang ada. Anugerah-anugerah Allah yang diberikan kepada kita hendaknya menjadi peluang bagi kita untuk menghasilkan cara dan kompetensi hidup yang bermakna dan bermanfaat bagi gerakan kesejatian hidup.

4.  Belajar membangun kehadiran yang unik: Setiap umat beriman adalah unik. Hasil kehadiran kita yang unik ini kiranya akan memberikan andil dalam pencapaian kesejahteraan bersama.

5.  Tetap bersemangat dan gembira dalam menjalankan tugas  perutusan:  Menghayati kepercayaan yang penuh semangat kasih  sebagai murid Kristus menjadi tanda perwujudan diri dalam kesejatian hidup.

6.   Menghidupkan dan memberdayakan  Komunitas Basis Gerejawi (KBG) dalam terang Firman Tuhan,  yang dilandasi semangat kasih-persaudaraan, dan  azas  solidaritas.

Melalui tema APP 2011:  Kesejatian Dalam Mewujudkan Diri”, saya mengajak seluruh umat untuk:

1. Senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah kehidupan.

2. Proaktif dan melibatkan diri  dalam menata karya kesejahteraan hidup bersama sesama.

3. Kreatif dalam menjawabi pelbagai keprihatinan yang menghambat perwujudan diri yang sejati.

4. Membangun kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan cita-cita dan harapan hidup bersama yakni kesejahteraan bersama yang berwawasan lingkungan.

5. Memberikan kesaksian dalam membangun relasi dengan sesama, terutama antar umat beriman, dan lingkungan hidup demi kebaikan seluruh ciptaan.

Semoga masa prapaskah menjadi kesempatan indah bagi kita untuk memurnikan hidup kita agar menyerupai Kristus, sehingga kita mampu menampilkan kesejatian hidup dalam mewujudkan diri.

 

Peraturan Masa Tobat, Puasa dan Pantang dalam Gereja

Surat Gembala ini saya akhiri dengan penyampaian  aturan-aturan Gereja mengenai tobat, puasa dan pantang yang berlaku dalam Gereja Katolik Universal:

1.     Hari dan waktu tobat dalam Gereja Katolik adalah setiap hari Jumat sepanjang tahun dan selama 40 hari masa pra-paskah (Kan.1250).

2.     Semua orang beriman Katolik wajib melakukan tobat demi hukum ilahi (artinya sesuai perintah Allah sendiri). Maka pada masa tobat tersebut, kita hendaknya secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa secara lebih intensif, menjalankan ibadat dan karya amal kasih, menyangkal diri dengan cara melaksanakan kewajiban-kewajiban dengan kasih setia, terutama dengan berpuasa dan berpantang (Kan.1249). Pantang makan daging dan makanan lainnya seturut kebiasaan hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, terkecuali hari Jumat itu jatuh bertepatan dengan suatu hari raya dalam Gereja (Kan.1251).

3.     Kita berpantang dan berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung dalam Pekan Suci. Pada hari Jumat lainnya dalam masa pra-paskah ini kita hanya berpantang (Kan. 1251) meskipun puasa dianjurkan.

4.     Yang diwajibkan berpuasa adalah semua orang yang telah berusia dewasa (genap 18 tahun) hingga awal tahun ke 60 (Kan 1252). Puasa berarti makan kenyang hanya sekali dalam sehari untuk tujuan-tujuan rohani dan amal.

5.     Yang diwajibkan berpantang adalah semua orang yang telah berusia genap 14 tahun ke atas (Kan. 1252). Pantang berarti meninggalkan makanan tertentu atau kebiasaan-kebiasaan tertentu demi tujuan-tujuan rohani dan amal.

Akhirnya, saya ucapkan “Selamat menjalankan APP dan Selamat Pesta Paskah 2011.  Tuhan memberkati kita.

 

Denpasar,  14  Pebruari 2011

Pada Pesta Santo Sirilus Perpetua dan Metodius

Salam dan Berkatku

 

Mgr. DR. Silvester San, Pr
Uskup Denpasar

 

+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
+/- Comments
Add New Search

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Next >