Written by Puspas at Saturday, 19 March 2011 (1415 hits)
SURAT GEMBALA
USKUP DENPASAR
DALAM RANGKA PRAPASKAH-PASKAH
2011
Pemberdayaan Kesejatian Hidup:
KESEJATIAN DALAM MEWUJUDKAN
DIRI
Saudara-saudari, umat beriman se-Keuskupan
Denpasar, yang saya kasihi,
Prapaskah kembali menyapa kita. Prapaskah
merupakanmasa Retret Agung selama 40
hari. Masa Prapaskah adalah saatistimewa kita mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa, bertobat,
bermatiraga dan melakukan karya belas kasih sebagai persiapan menyambut perayaan
Paskah.
Dalam kerinduannya untuk memperbaharui
praktek-praktek liturgi Gereja, Konstitusi tentang Liturgi Kudus Konsili
Vatikan II menyatakan, “Dua ciri khas Masa Prapaskah adalahmengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan,
dan membina sikap tobat. Kedua hal iniharuslah diberi penekanan yang lebih besar dalam liturgi dan dalam
katekese liturgi. Masa Prapaskah merupakan sarana Gereja dalam mempersiapkan
umat beriman untuk merayakan Paskah, sementara mereka mendengarkan Sabda Tuhan
dengan lebih sering dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa.” (KL.
109).
Selaku Pimpinan Gereja Lokal
Keuskupan Denpasar, saya mengajakseluruh umat agardengan
sungguh-sungguh memaknai dan memanfaatkanmasa ini untuk menimba rahmat Allah dengan berbagai kegiatan yang
memungkinkan tumbuh suburnya hidup rohani kita. Masa ini merupakan suatu
kesempatan indah bagi kita untuk berserahdiri kepada Tuhan melalui doa, pantang, puasa, tobat, perbuatan amal
kasih, syering Kitab Suci dan kegiatan pendalaman iman. Syering pengalaman
dalam kelompok kategorial dan KomunitasBasis Gerejawi (KBG), akanmemperkaya dan menguatkan kita satu sama lain.
Pada Prapaskah tahun 2011, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konferensi Wali Gereja Indonesia (PSE KWI) mengusung tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) “Pemberdayaan Kesejatian Hidup: Kesejatian Dalam Mewujudkan Diri”. Tema ini kemudian diangkat Keuskupan Denpasar menjadi tema APP 2011" yang dijabarkan dalam lima sub tema sebagai bahan pendalaman iman umat dalam komunitas basis selama masa prapaskah. Sehubungan dengan tema tersebut, Dalam Kerangka Dasar APP 2011 kita diajak untuk merefleksikan hal-hal sebagai berikut:
TantanganKesejatian
dalam Mewujudkan Diri: Sikap Ingat Diri Bertentangan Dengan Misi Yesus
Tema Kesejatian Dalam Mewujudkan Diri
bermaksud mengajak kita untuk menampilkan citra Kristus dalam hidup harian
melalui perkataan, perbuatan serta perjuangan kita mewujudkan misi Kristus demi
kebahagiaan dan kesejahteraan umat seluruhnya. Melalui Sakramen permandian setiap
umat beriman diangkat menjadi anak Allah, dalam persekutuan dengan seluruh
Gereja dan makhluk ciptaan. Sebagai anak-anak Allah kita dipanggilhidup kudus serta mewujudkan jati diri kita
sebagai orangkristen sejati.Namun dalam perjalanan mengaplikasikandiri sebagai umat beriman yang baik, manusia
menghadapi tantangan besar dalam tata kelola kehidupan zaman ini. Kehidupan
modernberdampak ambivalen, selain
memajukan peradaban manusia jugamengurung manusiadalam sikap
ingat diri dan kelompoknya sendiri. Sikapini memberi peluang terciptanya ketidakadilan, kesenjangan sosial dan
mengganggu kesejahteraan umum.
Perwujudan diri yang berorientasi pada
diri sendiri dan kelompoknya menghempaskan sesama darisituasi kehidupan yang damai, bahagia serta sejahtera,
sebab tidakmendapat kesempatanmenata kehidupan dengan lebih baik. Dunia
dikuasaiorang-orang yang kuat, yang
punya pengaruh dan yang memiliki banyak kesempatan.Budaya ingat diri membuat kehidupan sesama
semakin memprihatinkan. Kesempatan membangun kesejatian diri semakin terpuruk
oleh situasi yang tidak bersahabat. Masyarakat semakin terperangkap oleh
konsumtivisme, hedonisme, individualisme dan egoisme yang menghasilkan tata
kelola kehidupan yang keras bahkan cenderung kejam.
Tidak heran jika di dalam tata kehidupan
masyarakat muncul istilah“premanisme”.Premanisme ini
bukan saja berkembang di tataran kehidupan mayarakat warga, tetapi juga di
tingkat wakil rakyat, penegak hukum dan peradilan, serta birokrasi. Demi
memuaskan keinginan duniawinya orang-orang yang memilki kesempatan, rela
menghalalkan segala cara. Bahkan lembaga yang bertugas untuk memikirkan
kesejahteraan rakyatpun terjangkit virus ingat diriyang mengakibatkan rakyat semakin menderita.
Di manakah suara hati?
Ironis sekali,di era modern yang ditandai dengan
perkembangan tekhnologi yang serba canggih, masih banyak rakyat yang mengalami
busung lapar, kekurangan gizi, tidak bisa sekolah serta kasus-kasus
memprihatinkan lainnya. Sikap ingat diri sangat bertentangan dengan misi Yesus
yang ingin menyejahterakan dan menyelamatkan semua orang tanpa pandang bulu.“Aku datang,
supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh
10.10b)
Proaktifdan
Terlibat Memperjuangkan Kehidupan Bersama
Tugas perutusan setiap pengikut Kristus
adalah membangun kehidupan diri yang terbuka dan terarah pada terciptanya
keadilan, kebenaran, kedamaian dan kebaikan di tengah dunia. Setiap umat
beriman juga dipanggil untuk memberikan kesaksian akan Kristus. Kita juga wajib
bersaksi dengan kata-kata serta perbuatan di manapun kita berada. Dalam diri
kita harus tampak manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah
dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati (Lih. Ef 4:24).
Setiap orang dipanggil untuk membarui dan
menyempurnakan diri, supaya dapat melakukan perutusan perwujudan dirinya dengan
penuh tanggungjawab. Penyempurnaan dan pembaharuan diri hanya dimungkinkan
melalui pertobatan. Pertobatan merupakan undangan sekaligus rahmat Allah.
Pertobatan pribadi dalam upaya perwujudan diri sebagai murid Kristus merupakan
rahmat Allah demi penyempurnaan diri menuju pembenahan hidup bersama.
Kita tidak boleh tinggal diam menyaksikan
penderitaan sesama, melainkan harus proaktif dan terlibat memperjuangkan
kehidupan bersama yang sejahtera. Keterlibatan dalam karya keselamatan yang
merupakan bagian utuh perwujudan diri dalam kesejatian hidup diharapkan
terlaksana dengan sepenuh hati, sehingga berbuah melimpah bagi terciptanya
kesejahteraan umat manusia.
Dilandasi semangat kasih,kita diharapkan memiliki sikap kerelaan
berbagi demi terciptanya pemberdayaan bersama sebagai wujud aktualisasi diri
yang sejati. Pemberian diri dalam wujud perkataan, perhatian, perbuatan dan
karya pelayanan dalam kehidupan bersama akan semakin menciptakan kesejatian
diri yang terbuka untuk pembaruan diri dalam kebersamaan yang saling melayani
dalam kasih persaudaraan.“Rahmat, damai
sejahtera dan kasih kiranya melimpahi kamu”(Yudas 1:2).
Membangun Sikap untuk Mewujudkan Diri
Pembelajaran diri umat beriman sebagai
suatu proses kemampuan mewujudkan diri dalam membangun tata kelola kehidupan
yang utuh danterbuka memerlukan
kesadaran akan pentingnya pengembangan diri sebagai murid Kristus yang menuntut
beberapa sikap dasar dari pihak kita yakni:
1.Membangun nurani kemuridan sejati: Perutusan kemuridan
menghadirkan nurani Kristiani demi kesejahteraan hidup berdasarkan pola pikir
Yesus Kristus. Nurani Kristiani harus utuh dalam penghayatan iman sekaligus
terbuka untuk menggerakkan pelayanan bagi sesama yang saling memberdayakan.
2.Belajar
berbagi dan bekerjasama: Umat beriman harus mau belajar hidup berbagi dan
bekerjasama dengan sesama, agar kesejatian hidup diri terpantul juga dalam
hidup harian.
3.Belajar
menggunakan pelbagai karunia dan peluang yang ada. Anugerah-anugerah Allah yang
diberikan kepada kita hendaknya menjadi peluang bagi kita untuk menghasilkan
cara dan kompetensi hidup yang bermakna dan bermanfaat bagi gerakan kesejatian
hidup.
4.Belajar
membangun kehadiran yang unik: Setiap umat beriman adalah unik. Hasil kehadiran
kita yang unik ini kiranya akan memberikan andil dalam pencapaian kesejahteraan
bersama.
5.Tetap
bersemangat dan gembira dalam menjalankan tugasperutusan:Menghayati kepercayaan
yang penuh semangat kasihsebagai murid
Kristus menjadi tanda perwujudan diri dalam kesejatian hidup.
6.Menghidupkan dan memberdayakanKomunitas Basis Gerejawi (KBG) dalam terang Firman Tuhan,yang dilandasi semangat kasih-persaudaraan, danazassolidaritas.
Melalui tema APP 2011:“Kesejatian Dalam Mewujudkan Diri”, saya
mengajak seluruh umat untuk:
1. Senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan atas
anugerah kehidupan.
2. Proaktif dan melibatkan diridalam menata karya kesejahteraan hidup
bersama sesama.
3. Kreatif dalam menjawabi pelbagai keprihatinan yang
menghambat perwujudan diri yang sejati.
4. Membangun kerjasama dengan semua pihak dalam
mewujudkan cita-cita dan harapan hidup bersama yakni kesejahteraan bersama yang
berwawasan lingkungan.
5. Memberikan kesaksian dalam membangun relasi dengan
sesama, terutama antar umat beriman, dan lingkungan hidup demi kebaikan seluruh
ciptaan.
Semoga masa prapaskah menjadi kesempatan indah bagi
kita untuk memurnikan hidup kita agar menyerupai Kristus, sehingga kita mampu
menampilkan kesejatian hidup dalam mewujudkan diri.
Peraturan Masa Tobat, Puasa dan Pantang dalam
Gereja
Surat Gembala ini saya akhiri dengan
penyampaianaturan-aturan Gereja
mengenai tobat, puasa dan pantang yang berlaku dalam Gereja Katolik Universal:
1.Hari
dan waktu tobat dalam Gereja Katolik adalah setiap hari Jumat sepanjang tahun
dan selama 40 hari masa pra-paskah (Kan.1250).
2.Semua
orang beriman Katolik wajib melakukan tobat demi hukum ilahi (artinya sesuai
perintah Allah sendiri). Maka pada masa tobat tersebut, kita hendaknya secara
khusus meluangkan waktu untuk berdoa secara lebih intensif, menjalankan ibadat
dan karya amal kasih, menyangkal diri dengan cara melaksanakan
kewajiban-kewajiban dengan kasih setia, terutama dengan berpuasa dan berpantang
(Kan.1249). Pantang makan daging dan makanan lainnya seturut kebiasaan
hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, terkecuali hari Jumat
itu jatuh bertepatan dengan suatu hari raya dalam Gereja (Kan.1251).
3.Kita
berpantang dan berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung dalam Pekan Suci.
Pada hari Jumat lainnya dalam masa pra-paskah ini kita hanya berpantang (Kan.
1251) meskipun puasa dianjurkan.
4.Yang
diwajibkan berpuasa adalah semua orang yang telah berusia dewasa (genap 18
tahun) hingga awal tahun ke 60 (Kan 1252). Puasa berarti makan kenyang hanya
sekali dalam sehari untuk tujuan-tujuan rohani dan amal.
5.Yang
diwajibkan berpantang adalah semua orang yang telah berusia genap 14 tahun ke
atas (Kan. 1252). Pantang berarti meninggalkan makanan tertentu atau
kebiasaan-kebiasaan tertentu demi tujuan-tujuan rohani dan amal.
Sekiranya dalam homili dapat diselipkan mengenai tradis/aturan/hukum gereja..
yang sederhan...
Proficiat buat Kuria Keuskupan... semangat bekerja dan Tuhan selalu memberkati.
Tapi kalo se...
Damai bagimu,\nProficiat saya ucapkan atas nama semua Orang Muda Katolik
se-Keuskupan Ba...
Kami keluarga Besar Maukeli Bandung mengucapkan proficiat dan selamat melayani
kepada Mgr. S...
Selamat atas pentahbisan Mgr. Silvester San sebagai Uskup Denpasar. Tuhan
Memberkati.