Written by Oleh Romo Herman Yoseph Babey, Pr. at Saturday, 15 August 2009 (762 hits)
“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur
dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2, 2).
Kalau kita benar-benar masuk ke dalam kehidupan konkrit manusia, banyak dijumpai berbagai sikap manusia yang dibangun bersama untuk mengungkapkan relasi cinta. Sepertinya manusia berlomba-lomba dalam mengungkapkan cinta kepada sesamanya, bahkan ada juga arti cinta yang sepertinya tidak ada kata yang tepat untuk melukiskannya. Di tengah maraknya situasi hidup manusia seperti ini, hadir sisi lain dari kehidupan manusia yang berseberangan dengan relasi cinta, yakni manusia berjuang mempertahankan karakter dirinya yang sarat dengan egoisme dan kekelaman sikap; antara lain kesombongan, iri hati, dengki, amarah, merencanakan kejahatan dan kehancuran hidup sesamanya, dan aneka sikap negatip lainnya. Dua sisi kehidupan manusia ini selalu menyertai perjalanan hidup manusia pada setiap tingkat kehidupan.
Hari ini Gereja Katolik secara universal merayakan Pesta Epifani, Tuhan menampakan diri kepada para sarjana (orang Majus) dari Timur.
Peristiwa ini menjadi sebuah kabar gembira, karena menunjukkan
kehadiran Allah yang penuh kasih dan mau menyapa setiap manusia yang
berkehendak baik dalam kesehariannya. Lewat peristiwa ini, kita dapat
menyaksikan pengalaman para sarjana dari Timur yang sementara berjuang
membangun relasi cinta dengan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang
percaya akan kebaikan Allah dan mempunyai kehendak baik dalam hatinya.
Karena itu dengan perjalanan yang melelahkan, dengan semangat berkobar,
mereka mencari Tuhan.
Relasi kasih dan sikap hidup yang dibangun oleh para sarjana ini sangat
bertolak belakang dengan apa yang sementara dibangun oleh Herodes
sebagai seorang raja. Karena takut dan cemas, bahwa kedudukannya akan
digeser oleh raja yang lain, Herodes mengembangkan relasi dan sikap
palsu dalam dirinya. Dengan pura-pura ingin menyembah Yesus, Herodes
kelihatan juga mulai sibuk mencari tahu di mana tempat Yesus, raja baru
dilahirkan. Herodes yang hidupnya dipenuhi dengan sejumlah sikap
negatip; sombong, iri hati dan cepat marah, mulai merencanakan
kemungkinan melenyapkan kehidupan Yesus sesegera mungkin untuk
mengamankan posisi dirinya.
Saudarku terkasih, hidup yang berkualitas di hadapan Allah dan sesama
tidak ditunjukkan dengan sejumlah pangkat, jabatan dan kedudukan yang
kita miliki, tetapi oleh keterbukaan hati untuk mempersilakan Allah
berkarya dalam diri kita, dan oleh berkemauan baik untuk membangun
relasi kasih dengan Allah dan dengan sesama. Cara hidup seperti ini
ditandai dengan sikap kerendahan hati untuk selalu mencari dan berjumpa
dengan Tuhan, dan menjadikan hidup kita sebagai ungkapan syukur dan
persembahan yang harum mewangi atas KasihNya. Allah sangat mencintai
kita dengan menyerahkan AnakNya yang tunggal, supaya kita yang percaya
kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dan Yesus
telah menunjukkan cintaNya kepada kita dengan kematianNya di atas kayu
salib. Benarlah apa yang diungkapkan Yesus, “Tidak ada kasih yang lebih
besar, daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya”.
Saudaraku! Apakah saat ini kita merasakan suatu situasi yang tenang,
situasi yang hening, situasi yang sangat pantas untuk merenung dan
melihat betapa besar kasih Allah atas hidup kita? Ambillah waktu untuk
merenung, lihatlah KasihNya. Raihlah kasih Allah dan tempatkanlah
segera dalam hati kita, lalu pancarkan kasih Allah yang sama kepada
sesama kita. Dengan cara hidup seperti ini, kita mengalami peristiwa
penampakan Tuhan dalam keseharian kita. Tuhan memberkati!
|
Sekiranya dalam homili dapat diselipkan mengenai tradis/aturan/hukum gereja..
yang sederhan...
Proficiat buat Kuria Keuskupan... semangat bekerja dan Tuhan selalu memberkati.
Tapi kalo se...
Damai bagimu,\nProficiat saya ucapkan atas nama semua Orang Muda Katolik
se-Keuskupan Ba...
Kami keluarga Besar Maukeli Bandung mengucapkan proficiat dan selamat melayani
kepada Mgr. S...
Selamat atas pentahbisan Mgr. Silvester San sebagai Uskup Denpasar. Tuhan
Memberkati.