Written by Rm. Herman Yoseph Babey, Pr at Saturday, 15 August 2009 (3059 hits)
“Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia
di tengah jalan……….” (Mat 5:25)
Berhadapan dengan praktek hidup manusia yang cenderung sombong, egois, dendam, pemarah dan suka merendahkan martabat hidup sesamanya, seperti karakter hidup para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Yesus mengingatkan para muridNya, untuk tidak mengikuti cara hidup tersebut. Yesus meminta mereka untuk bersikap rendah hati, selalu mau berdamai dengan sesama, dan berjuang untuk tidak menjadikan dirinya sebagai sumber konflik dan penderitaan bagi sesama.
Dalam mempertanggungjawabkan perjalanan hidup ini, kita memerlukan
jiwa yang besar untuk berani mengampuni sesama dan hidup berdamai
dengannya. Juga dengan hati yang suci, setiap manusia diharapkan bisa
menerima kehadiran sesama apa adanya. Bila kita kembali pada amanat
penciptaan, manusia diciptakan Allah, sesuai gambar dan CitraNya.
“Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya
mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara
.......(Kej 1:26) . Dalam ayat ini mengandung makna, manusia
memiliki derajat dan martabat yang sama dihadapan Allah. Status sosial
boleh berbeda tetapi derajat dan martabat setiap manusia sama. Jadi
hendaklah setiap manusia bisa melihat kehadiran Allah dalam diri
sesamanya. Dengan demikian tidak perlu lagi ada pertengkaran,
permusuhan, saling merendahkan, bahkan berniat menghancurkan hidup
sesamanya. Untuk melakukan semua ini memang tidak mudah, tetapi itulah
karakter Kerajaan Allah yang mau menyelamatkan manusia. Untuk sampai
pada Kerajaan Allah manusia harus terus-menerus berjuang mengalahkan
musuh-musuh diri seperti, kesombongan, egois, iri hati, sulit memafkan,
dendam dll. Apabila kita menemukan diri kita terpisah jauh dari sesama
oleh karena sikap-sikap tersebut, maka kita harus segera mengambil
langkah konkrit untuk memperbaharui diri dalam segala tingkatan
kehidupan manusia.
Mencermati kenyatan hidup yang tidak sejalan dengan rencana dan
kehendak Allah, kita perlu menempatkan kembali arti terdalam kehidupan
manusia yang sebenarnya, yakni hidup yang diarahkan pada kehendak
Allah dan perjuangan hidup manusia yang harus diterjemahkan sebagai
anugerah Allah yang mahal harganya. Memang pengaruh tantangan zaman
yang tidak bisa kita pungkiri telah menggugah dan mengajak kita untuk
melangkah dengan penuh keyakinan, bahwa Allah memihak kepada kesetiaan
iman seseorang menurut rasa penghargaan akan martabat hidup manusia.
Allah telah menciptakan kita dengan penuh kasih, oleh karena itu
kasih hendaknya bertumbuh subur di hati setiap manusia. Dengan kasih
orang akan mampu menghargai orang lain, mengampuni sesama, membuat
kita semakin rendah hati. Kasih juga membuat kita tidak
mengingat-ingat kesalahan orang lain, apalagi memelihara kesalahan itu
sebagai dendam yang akan di bawa sampai mati. Kasih membuat hidup
kita dekat dengan Allah dan sesama.
Ambillah waktu 2-3 menit untuk duduk tenang: Rasakan kehadiran Tuhan:
katuplah kedua matamu......aturlah nafasmu......berhadapan dengan
penderitaan sesama akibat perbuatan kita, apa yang harus kita lakukan?
Lihatlah Yesus yang mengajak kita untuk menjadikan diri kita sebagai
penyalur kedamaian, rasa aman dan pencinta kesejahteraan hidup bersama
sesama.
Tuhan Yesus terimakasih atas kemurahan hatiMu yang boleh saya terima
pada hari ini. Mampukanlah saya agar senantiasa berjalan dalam terang
keselamatan dan selalu siap untuk berdamai dengan sesama, Amin.
Tuhan
memberkati!
|
Sekiranya dalam homili dapat diselipkan mengenai tradis/aturan/hukum gereja..
yang sederhan...
Proficiat buat Kuria Keuskupan... semangat bekerja dan Tuhan selalu memberkati.
Tapi kalo se...
Damai bagimu,\nProficiat saya ucapkan atas nama semua Orang Muda Katolik
se-Keuskupan Ba...
Kami keluarga Besar Maukeli Bandung mengucapkan proficiat dan selamat melayani
kepada Mgr. S...
Selamat atas pentahbisan Mgr. Silvester San sebagai Uskup Denpasar. Tuhan
Memberkati.