Thursday, 29 July 2010
Home arrow Renungan Romo arrow MARI KITA PERGI MENJUMPAINYA

Santapan Rohani

Santo Santa
Renungan Romo

Daftar Anggota

Lihat / Cari Anggota

Login Disini

Advertisement
MARI KITA PERGI MENJUMPAINYA PDF Print E-mail
Written by omo Herman Yoseph Babey, Pr. at Saturday, 15 August 2009 (1028 hits)

 

“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami  datang untuk menyembah Dia” (Mat 2, 2).


Kalau kita benar-benar masuk ke dalam kehidupan konkrit manusia, banyak dijumpai berbagai sikap manusia yang dibangun bersama untuk mengungkapkan relasi cinta. Sepertinya manusia berlomba-lomba dalam mengungkapkan cinta kepada sesamanya, bahkan ada juga arti cinta yang sepertinya tidak ada kata yang tepat untuk melukiskannya. Di tengah maraknya situasi hidup manusia seperti ini, hadir sisi lain dari kehidupan manusia yang berseberangan dengan relasi cinta. Manusia berjuang mempertahankan karakter dirinya yang sarat dengan egoisme dan kekelaman sikap. Sebut saja kesombongan, iri hati, dendam, amarah, sulit mengampuni, berprasangka buruk dan  merencanakan kehancuran hidup sesamanya. Dua sisi kehidupan manusia ini selalu menyertai perjalanan hidup manusia pada setiap tingkat kehidupan.

 

Perayaan Epifani, Tuhan menampakan diri kepada para sarjana (orang Majus) dari Timur, menggambarkan suasana kegembiraan bagi hidup manusia. Melalui peristiwa ini kita diajak untuk melihat kehadiran Allah yang penuh kasih dan mau menyapa setiap manusia yang berkehendak baik dalam kesehariannya. Lewat peristiwa ini, kita dapat menyaksikan pengalaman para sarjana dari Timur yang sementara berjuang membangun relasi cinta dengan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang percaya akan kebaikan Allah dan mempunyai kehendak baik dalam hatinya. Karena itu dengan perjalanan yang melelahkan, dengan semangat berkobar, mereka mencari Tuhan.

Relasi kasih dan sikap hidup yang dibangun oleh para sarjana ini sangat bertolak belakang dengan apa yang sementara dibangun oleh Herodes sebagai seorang raja. Karena takut dan cemas, bahwa kedudukannya akan digeser oleh raja yang lain, Herodes mengembangkan relasi dan sikap palsu dalam dirinya. Dengan pura-pura ingin menyembah Yesus, Herodes kelihatan juga mulai sibuk mencari tahu di mana tempat Yesus, raja baru dilahirkan. Herodes yang hidupnya dipenuhi dengan sejumlah sikap negatip; sombong, iri hati dan cepat marah, mulai merencanakan kemungkinan melenyapkan kehidupan Yesus sesegera mungkin untuk mengamankan posisi dirinya.

Saudarku terkasih, hidup yang berkualitas di hadapan Allah dan sesama tidak ditunjukkan dengan sejumlah pangkat, jabatan dan kedudukan yang kita miliki, tetapi oleh keterbukaan hati untuk mempersilakan Allah berkarya dalam diri kita, dan oleh berkemauan baik untuk membangun relasi kasih dengan Allah dan dengan sesama. Cara hidup seperti ini ditandai dengan sikap kerendahan hati untuk selalu mencari dan berjumpa dengan Tuhan, dan menjadikan hidup kita sebagai ungkapan syukur dan persembahan yang harum mewangi atas KasihNya. Allah sangat mencintai kita dengan menyerahkan AnakNya yang tunggal, supaya kita yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Saudaraku! Apakah saat ini kita merasakan suatu situasi yang tenang, situasi yang hening, situasi yang sangat pantas untuk merenung dan melihat betapa besar kasih Allah atas hidup kita? Ambillah waktu untuk merenung, lihatlah KasihNya. Raihlah kasih Allah dan tempatkanlah segera dalam hati kita, lalu pancarkan kasih Allah yang sama kepada sesama kita. Dengan cara hidup seperti ini, kita mengalami peristiwa penampakan Tuhan dalam keseharian kita. Tuhan memberkati!

 

Only registered users can write comments!
+/- Comments
Search

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >