Written by Romo Herman Yoseph Babey, Pr. at Tuesday, 24 March 2009 (4121 hits)
“Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman. Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran….Jalan Tuhan adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat
(Amsal 10, 11-12.29)”.
Menoleh dan memandang kembali ke masa silam kadang-kadang merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan dan menyakitkan bagi hidup kita. Hal ini karena kita harus dengan berani melihat kembali kesempatan emas yang tak digenggam di masa silam dan berbagai keterpurukkan sikap yang menyakitkan Tuhan, sesama dan diri kita sendiri, yang pernah menjadi bagian cukup penting dalam kehidupan kita, yang mungkin akan mengakibatkan kita menyesal berkepanjangan. Hidup kita pasti akan menjadi lain apabila kita sungguh menangkap kesempatan emas yang telah berlalu dan tak akan pernah kembali lagi tersebut, atau juga kita akan melihat kembali keputusan yang salah yang pernah dibuat di masa silam yang beban akibatnya harus dipikul di saat ini.
Adalah menjadi kenyataan bahwa menoleh ke masa silam bisa sangat menyakitkan dan bisa juga sangat menggembirakan bagi perjalanan hidup kita. Karena itu kita perlu punya waktu untuk membuat seleksi sikap; memilih pengalaman mana yang boleh disimpan untuk selanjutnya tetap dipelihara dan diperjuangkan, dan pengalaman mana yang harus diabaikan. Kita harus menentukan dengan berani pengalaman mana yang layak diingat lagi dan mana yang harus dilupakan, dan kita memang harus berani mengambil sikap akan pengalaman mana yang harus dinilai sebagai harta karun dan mana yang harus dibuang karena dinilai hanya sebagai sampah yang tidak berguna.
Mari kita kembali menoleh sejenak untuk melihat Jembatan Emas, sarana
persahabatan antara kita dengan Tuhan dan antara kita dengan sesama.
Sangat perlu memperhatikan kembali setiap jejak langkah kita secara
saksama. Apa yang ingin kita cari dari pengalaman masa silam tersebut?
Hanya ada satu hal, yakni melihat kembali keterlibatan Tuhan dalam
derap langkah hidup kita; Tuhan selalu berjalan bersama kita. Ia
mungkin nampak lewat orang-orang yang setiap hari kita jumpai, yang
berjalan bersama kita, yang memberikan kita peneguhan, yang mengulurkan
tangan ketika kita terjatuh. Ia tidak akan pernah meninggalkan kita
berjalan seorang diri.
Saudaraku terkasih! Masuklah dalam keheningan dan lihatlah perjalanan
hidupmu dihadapan Tuhan dan sesama. Sudahkah kita merasa diri sebagai
Anak Allah yang baik, yang selalu mendengarkan rencanaNya dan
mengasihiNya? Benarkah kita memang tidak hadir sebagai pribadi yang
suka menginjak harkat dan martabat hidup orang lain? Apakah memang kita
sementara berjalan di Jalan Tuhan, dan mungkinkah diri kita menjadi
tempat perlindungan bagi sesama kita? Lihatlah kehadiran Yesus yang
sangat menderita akibat dosa kita, datang dan temuilah Dia sambil
berujar dengan gembira, “Aku mencintaiMU!” Mari berangkat bersamaNya
untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Tuhan memberkati!
|
Sekiranya dalam homili dapat diselipkan mengenai tradis/aturan/hukum gereja..
yang sederhan...
Proficiat buat Kuria Keuskupan... semangat bekerja dan Tuhan selalu memberkati.
Tapi kalo se...
Damai bagimu,\nProficiat saya ucapkan atas nama semua Orang Muda Katolik
se-Keuskupan Ba...
Kami keluarga Besar Maukeli Bandung mengucapkan proficiat dan selamat melayani
kepada Mgr. S...
Selamat atas pentahbisan Mgr. Silvester San sebagai Uskup Denpasar. Tuhan
Memberkati.