Sunday, 05 February 2012
Home arrow Paroki / Stasi arrow Tiada Gereja Tanpa Kaum Muda

Ikutan milis yuk


Ikutan milis Keuskupan Denpasar

Santapan Rohani

Santo Santa
Renungan Romo
Advertisement
Tiada Gereja Tanpa Kaum Muda PDF Print E-mail
Written by Seran at Tuesday, 25 November 2008 (2232 hits)

Paroki FX Kuta (WartaFX) : Minggu 12 Oktober 2008. Ratusan kaum muda separoki Kuta berkumpul di basement gereja. Ada apa gerangan?

Image
Hari itu, setelah Misa ke dua, diselenggarakan temu akbar kaum muda separoki Kuta, dengan tema: “SUARA KAUM MUDA”.
Acara dibuka dengan sambutan Romo paroki, Rm. Hubert Hady Setyawan, Pr. “Tanpa kaum muda maka tidak ada Gereja. Kaum muda adalah orang terbaik yang diberikan Tuhan kepada Gereja. Orang muda adalah 100% warga Gereja, bagian dari masa depan Gereja”, kata Romo Hady dalam sambutannya. Karena itu, lanjut Romo Hady, “Tugas kaum muda adalah melihat ke dalam dirinya apa yang bisa diberikan kepada Gereja. Aplikasinya adalah melaksanakan semua tugas yang dipercayakan kepadanya dengan baik”.
Tampil sebagai pembicara pertama adalah Hironimus Adil, sekretaris Komisi Kepemudaan Keuskupan Denpasar. Pak Hironimus yang hadir atas nama Rm. Kris Ratu, SVD (ketua komisi) ini membawakan materi ‘Peran Kaum Muda Dalam Kehidupan Menggereja’. Dalam materi yang diberinya judul: “Panggilan Kaum Muda Dalam Kehidupan Menggereja” ini, beliau menegaskan tugas dan tanggung jawab kaum muda sebagai ‘tulang punggung Gereja, masa depan gereja. Beliau juga menegaskan peran  kaum muda sebagai agen, pejuang dan bagian dari perubahan.
Berkaitan dengan peran kaum muda berkaitan dengan ‘perubahan’ ini, pak Hiro menyodorkan dua pertanyaan reflektif kepada para peserta yang hadir. “Bagaimana kaum muda mengubah Gereja untuk mengubah dunia? Sejauh mana Gereja memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk maksud ini?

Menjawab dua pertanyaan di atas, ketua redaktur majalah Agape ini menyodorkan data dan kesepakatan yang dicapai dalam temu kaum muda Keuskupan Denpasar 2006. Mengutip data tersebut di atas, pak Hiro menandaskan bahwa masih terlalu banyak kaum muda yang belum terlibat dalam kehidupan menggereja dan kehidupan bermasyarakat karena berbagai alasan. Beliau juga menandaskan bahwa Gereja Keuskupan Denpasar, melalui Komisi Kepemudaan, telah berusaha menjawab kecemasan-kecemasan kaum muda, seperti eksklusivisme, hedonisme, mental instan dan kurang disiplin. Ini adalah cara Gereja memberikan peluang kepada kaum muda untuk terlibat di dalam misinya. “Pendalaman iman, pelatihan keterampilan, pertemuan pendampingan kaum muda adalah pintu masuk kepada keterlibatan langsung dalam kehidupan. Gereja memberikan sarana dan mudika adalah homebase (rumah bersama) bagi potensi orang muda”, katanya. Dan sebagai penutup dari makalahnya, beliau berpesan agar kaum muda berani berdialog dengan lingkungan di luar dirinya dan supaya orang muda selalu melangkah dalam kebersamaan.

Rm. Herman Yosep Babey, Pr tampil sebagai pembicara ke dua. Imam muda yang energik ini mengawali sesinya dengan pertanyaan mengenai pendapat orang tentang mudika Kuta. Banyak sekali jawabannya. Ada yang berkomentar bahwa ‘mudika identik dengan tukang parkir, mudika identik dengan nasi  bungkus’. Ada juga yang malah mempertanyakan tanggung jawab mudika.

Terhadap semuanya itu, Romo Babey menegaskan bahwa mudika sendiri harus berani melihat ke dalam diri sendiri. Mudika harus berani bertanya pada diri sendiri tentang apa motivasinya menjadi seorang mudika, apa suka dukanya sebagai seorang mudika. Karena menurut Romo, menjadi seorang mudika berarti bersedia untuk ‘melayani dengan penuh kasih dan melayani tanpa pamrih’.

Selanjutnya, Bapak Frans Hendrik, Ketua DPP Paroki Kuta, menyampaikan pandangannya tentang peluang keterlibatan kaum muda dalam kehidupan menggereja. Menurut beliau, pada prinsipnya Dewan Paroki mendukung semua rencana dan program kerja mudika.

Sesi terakhir adalah sesi tanya jawab. Pada kesempatan ini, para peserta diberikan kesempatan untuk ‘bersuara’. Semangat kaum muda benar-benar terlihat dalam antusias mereka dalam bertanya dan berpendapat. Banyak hal yang ditanyakan dan dinyatakan. Dan semoga semua jawaban dan tanggapan dalam kesempatan itu tidak berhenti pada kata-kata belaka. Mari kita berjuang bersama.***(Seran/foto: Agung)



Wawancara Dengan Beberapa Orang yang terlibat langsung dalam acara ini:

Benediktus Hamu (Ketua Panitia Temu Kaum Muda)
Latar belakang diadakan kegiatan ini:
Ada banyak kelompok kaum muda yang ingin berdiri sendiri, sehingga kekuatan mudika, yang seharusnya menjadi tulang punggung Gereja menjadi tidak terarah. Kita ingin melebur kelompok-kelompok ini menjadi satu.
Harapan ke depan/ tujuan yang akan dicapai dari kegiatan ini:
Mudika paroki yang memiliki satu visi dan satu tangggung jawab terhadap masa depan Gereja.

Yustin Ningsih  (Ketua Mudia)
Kesan:
Kegiatan ini sangat bagus dan perlu diadakan sesering mungkin, karena dengan adanya wacana ini dapat menumbuhkan sikap saling mengenal dan saling menghargai satu sama lain.
Kendala:
Masih kurangnya kesadaran kaum muda akan pelayanan dalam Gereja dan fungsi di dalam mudika itu sendiri.
Harapan:
Mengajak sebanyak mungkin kaum muda yang ada di Paroki FX Kuta untuk bergabung sehingga dapat meningkatkan pelayanan.

Ardi
Kesan:
Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang baru kami adakan selama sekian tahun khususnya selama masa kepengurusan yang sekarang ini. Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah menggugah kaum muda yang selama ini kurang aktif atau belum terlibat dalam kegiatan mudika untuk mengambil bagian dalam tugas pelayanan sebagai mudika. Kami sangat bangga dengan diadakannya kegiatan ini, dengan demikian kami baru tahu kapasitas kaum muda yang berada di paroki kuta ini.

Kendala:
Kesuksesan acara ini tidak terlepas dari berbagai macam kendala yang kami hadapi, semua campur tangan dari berbagai pihak yang telah mendukung sangat membantu kelancaran acara ini. A big thanks untuk DPP Kuta yang telah mendukung acara ini dan berbagai pihak yang telah ikut membantu panitia.

Pesan dan harapan:
Semoga dengan diadakannya acara ini, kita semakin sadar akan tugas dan tanggung jawab kita sebagai kaum muda. Mari kita bersama-sama membangun semangat kepemudaan kita dengan memberikan yang kita miliki sebagai wujud identitas diri kita yang beriman pada Yesus,bukan malah sebaliknya. Hilangkan paradigma lama, bahwa orang yang sering ke Gereja adalah orang yang Kuper(kurang pergaulan) gak Funky, gak Gaul dll. Mari kita bahu-membahu, saling menguatkan dalam Pelayanan. Bravo kaum muda. KEEP ON FIRE........!!!!!!!


(Seran/ Foto:Agung)


+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
+/- Comments
Add New Search

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev